Penelitian fosil cangkang foraminifer terkait dengan iklim lautan bumi purba

Penelitian tentang fosil kulup menunjukkan perubahan iklim di bumi. Kerang foraminifera ini ditemukan di sedimen laut dalam. Foram sendiri identik dengan foraminifera.

Plankton mikroskopis dari zaman foraminifera. Spesies ini muncul satu miliar tahun yang lalu. Ilmuwan yang mencari spesies ini pasti harus menggali lebih dalam.

Hasilnya adalah cara mereka menua. Shell foraminifer yang dirilis oleh Live Science berisi banyak informasi. Secara khusus, informasi tentang iklim yang berlaku di bumi saat itu.

Penelitian tentang Fosil Cangkang Foraminifer dalam Iklim Bumi

Di perut ada rasio isotop karbon dan oksigen. Rasio isotop oksigen 18 dan 16 memberikan informasi tentang panas air.

Ini terjadi ketika foram membentuk cangkang seperti cangkang. Jika proporsinya menunjukkan angka yang lebih tinggi, maka suhu air akan semakin dingin. Kebalikannya juga terjadi ketika relasi menunjukkan angka yang rendah.

Rasio karbon 13 sampai 12 menunjukkan jumlah karbon organik. Karbon organik ini tersedia untuk mikroba yang nantinya menjadi makanan. Penelitian tentang fosil cangkang foraminifera mengungkapkan informasi penting.

Jika hubungannya lebih tinggi, itu terkait dengan gas rumah kaca. Contohnya adalah korelasi antara karbon dioksida di atmosfer. Tentunya hal ini berdampak besar pada perubahan iklim di bumi.

Baca Juga: Penelitian Fosil Mastodon yang Bermigrasi dan Akhirnya Punah

Apa itu Penelitian Fosil Shell Foram?

Foraminifera sendiri merupakan organisme uniseluler atau protista. Keberadaannya telah menjadi fosil dan objek penelitian. Bentuk mangkok sederhana ini menyerupai tabung terbuka.

Jadi bentuknya juga seperti bola berlubang. Namun, bentuk sebenarnya akan bergantung pada spesies yang ada. Cangkangnya bisa dibuat dari senyawa organik dan butiran pasir.

Itu juga dapat terdiri dari partikel lain yang menempel pada kristal kalsit atau aragonit. Kristal ini memiliki rumus CaCO3. Ketika mencapai usia dewasa, ukurannya bisa mencapai 100 mikron.

Ukuran ini setara dengan lebih dari 20 sentimeter. Beberapa cangkang foraminifera memiliki hubungan simbiosis dengan alga. Cara bertahan hidup adalah dengan menangkap makanan dengan jaringan retikulopoda.

Jaringan ini juga memiliki nama lain, pseudopoda halus. Jaring ini memiliki bentuk yang memanjang. Foraminifera tidak hanya menangkap makanan, tetapi juga menggunakan jaringan ini untuk penggerak.

Penelitian tentang fosil cangkang Foram juga telah mengungkap informasi tentang kehidupannya. Salah satunya adalah informasi tentang di mana spesies ini hidup. Di mana spesies ini hidup?

Organisme lingkungan laut Foraminifera

Ada sekitar 4.000 jenis foraminifera di lautan. Beberapa di antaranya termasuk dalam kategori plankton. Spesies ini bisa berenang di air.

Sedangkan sisanya di area dasar laut terdapat bebatuan, pasir dan lumpur. Namun, sebagian besar dapat ditemukan di lingkungan laut. Penelitian tentang fosil cangkang foraminifer sangat penting.

Karena dapat memberikan informasi tentang berbagai bentuk kehidupan. Penelitian ini telah membuktikan kegunaannya dalam eksplorasi minyak bumi, paleobogeografi, paleokologi, dan biostratigrafi.

Cangkang foram dapat memberikan informasi tentang umur relatif batuan laut. Spesies ini menunjukkan perkembangan evolusioner yang berkelanjutan. Jadi ekstensinya juga sangat besar.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa cangkang foraminifera juga menunjukkan perilaku spesies ini. Dari perilaku bertahan hidup hingga siklus hidup. Ada beberapa spesies yang perlahan tenggelam ke dasar sedimen.

Baca Juga: Penelitian Embrio Titanosaurus Berbeda Dengan Spesies Dewasa

Punahnya cangkang foraminifera

Keberadaan spesies ini tidak lepas dari bagian manapun dalam rantai makanan laut. Kemudian rantai makanan dari predator, pasir dolar hingga ikan-ikan kecil. Dilihat secara detail, spesies ini umumnya memiliki tiga tipe dasar.

Dibuat dengan cangkang terikat, hialin, dan berpori. Ketiganya tentunya memiliki ciri khas yang berbeda. Selain itu, susunan partikelnya juga berbeda.

Kematian spesies ini merupakan akibat dari asteroid besar yang bertabrakan dengan bumi. Padahal, tidak hanya foraminifera, tapi juga spesies tumbuhan dan hewan. Keberadaan asteroid ini telah menyebabkan kepunahan massal makhluk-makhluk bumi.

Foraminifera mati terkubur di sedimen dasar laut. Banyak ilmuwan telah menemukan fosil ini di dasar lautan. Tetap saja, fosil ini tetap memegang peranan penting.

Ilmuwan telah meneliti fosil cangkang foraminifera selama beberapa dekade. Hasilnya adalah indikasi suhu lautan saat bumi masih muda. Hasil penelitian terbaru telah dipublikasikan di jurnal Science (R10 / HR Online) sejak 10 September 2020.

READ  Bukan asteroid, ilmuwan bingung ada benda luar angkasa yang mendekati Bumi sebelum Natal
Written By
More from Munir Rad

HP Samsung Terbaru, Galaxy M51, Baterai Jumbo 7.000mAh, Ini Spesifikasi Lengkapnya

TRIBUNMANADO.CO.ID – Ponsel pintar seri-M terbaru Samsung akhirnya diluncurkan. Samsung Galaxy M51....
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *