Dengarkan Keluhan Petani, Presiden Jokowi Berdialog Tentang Harga Pupuk dan Pengeringan Padi

Presiden Jokowi saat berkunjung ke Kabupaten Samosir tahun 2016 lalu. (SAMOSIRNews/doc)

SAMOSIRNews - Sragen

Presiden RI Joko Widodo berdialog dengan petani, pemilik penggilingan padi, dan pengusaha pupuk bersubsidi dalam acara Silaturahim dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) serta Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) se-Jawa Tengah di Gedung Olahraga (GOR) Diponegoro, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rabu (3/4/2019.

Saat berdialog dengan Endang, pengusaha penggilingan padi dari Jenar, Sragen, Jokowi mendapatkan informasi bahwa yang bersangkutan telah memiliki mesin penggilingan sejak 18 tahun lalu.

Selanjutnya, Presiden bertanya apakah hanya penggilingan saja atau ada pengeringan, dan pengemasan, Endang menjawab penjemuran masih manual yakni dijemur sebagaimana biasa.

“Nah, ini perlu saya ingatkan pemilik-pemilik penggilingan. Sekarang ini zamannya, zaman modern gitu loh,” ujar Jokowi seraya menambahkan sejak kecil sudah melihat bahwa setelah panen pasti dijemur di jalan-jalan atau pelataran.

Hal ini yang perlu diubah, lanjut Jokowi, bahwa penggilingan harus memiliki dryer. Ketika ditanya Presiden kenapa belum memiliki pengering, Endang menjawab saat ini belum ada dana.

Presiden bertanya bertanya lagi mengenai kemungkinan meminjam dana dari bank untuk membeli dryer, Endang menyampaikan permohonan bantuan karena untuk beli gabah saja petani sudah pinjam dari bank.

Kemudian Jokowi berdialog dengan Panio, petani dari Tilemsari, Ngrampal, Sragen yang memiliki sawah seluas 1 hektar dan menyampaikan bahwa saat panen hasilnya mencapai 9,5 ton.

Mendengar itu, Presiden bertanya mengapa hasilnya sebanyak itu, Panio menjelaskan bahwa dirinya memakai pupuk tambahan, karena pupuk subsidi itu kurang.

Jatah pupuk subsidi itu kurang, menurut Panio, sehingga dirinya memakai pupuk tambahan sehingga saat panen bisa menghasilkan 9,5 ton yang ketika dijual mencapai Rp 500 ribu per kwintal.

Hasil panen tersebut, menurut Panio, dipanen sendiri memakai mesin potong setelah itu baru mengundang penjual gabah ditimbang di tempat dan dibayar langsung di situ.

Presiden Jokowi ketika mengunjungi Kabupaten Samosir tahun 2016 lalu, disambut Bupati Rapidin Simbolon. (SAMOSIRNews/doc)

Dengan harga demikian, Presiden menghitung bahwa penghasilan yang didapatkan oleh Panio sebesar Rp 47,5 juta. Kisaran ongkos biaya garap bersih sebesar Rp15 juta, berarti Panio masih memiliki hasil sebesar Rp 32,5 juta.

"Jika dihitung dengan masa tunggu selama 4 bulan, maka Panio bisa mendapatkan Rp8 juta per bulan," ungkap Presiden.

Selanjutnya, giliran Presiden berbincang dengan Slamet Riyadi, pengusaha pupuk subsidi dari Sumberlawang.

Jokowi mendapatkan informasi bahwa banyak petani masih mengeluh kekurangan pupuk subsidi, terutama untuk musim ini yang jatahnya dikurangi hampir sepertiga.

Soal kekurangan pupuk, Presiden mengaku pernah bertanya kepada produsen pupuk katanya stok melimpah sedangkan dengan penjual dan petani kurang.

Ketika ditanya Jokowi soal kekurangan itu, menurut Slamet karena petani lebih condong menggunakan pupuk bersubsidi karena yang nonsubsidi harganya lebih mahal.

Harga pupuk Urea, jawab Slamet kepada Presiden, sebesar Rp90 ribu per 50 kilogram (kg), sedangkan untuk pupuk nonsubsidi kemasan 10 kg sebesar Rp60 ribu.

“Ya memang kalau harganya terpaut sangat jauh seperti itu ya larinya pasti semuanya ingin yang subsidi, nggih,” ujar Presiden.

Selain Ibu Negara Iriana, turut mendampingi Presiden, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Sumber; Setkab RI
loading...

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.