Bansos Disabilitas Produktif Tidak Terealisasi, Aparat Dinsos Provinsi Sumut dan Dinsos Samosir Saling Menyalahkan

Keterangan Foto;
Penyandang disabilitas produktif, Sandro Sitanggang (35) dan Sonder Nadeak (45), kecewa terhadap kinerja aparatur di Dinsos. (Ist)

SAMOSIRNews - Pangururan

Kekecewaan dialami 20 orang penyandang disabilitas produktif di Kabupaten Samosir yang dijanjikan mendapat bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dari Kementerian Sosial.

Seyogianya mereka mendapatkan bantuan sosial yang sangat dibutuhkan untuk menopang usahanya dan dananya ditampung pada Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Sumatra Utara (Provsu) TA 2018.

Tapi apa hendak dikata, karena kelalaian aparatur, para penerima bantuan sosial itu, gagal mendapatkan dana yang telah di depan mata.

Ketika diperjelas, alasan gagalnya penyandang disabilitas produktif mendapatkan bantuan pemerintah itu, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara dan Dinas Sosial Kabupaten Samosir, saling menyalahkan.

Kepala Bidang Rehabilitasi Dinsos Provsu, Ardo Sitompul kepada wartawan mengakui, sudah didatangi DPRD Samosir terkait permasalahan itu. 

"Ketika Kepala Seksi kita turun ke Samosir untuk melakukan pendataan, ternyata sebagian penerima bantuan tidak masuk dalam Basis Data Terpadu (BDT)," jelas Ardo ketika dihubungi wartawan, Selasa (19/3/2019).
Jadi gak bisa diberikan Bantuan Sosial (Bansos) itu," jelas 

Lanjut Ardo, hal itu sudah dijelaskan kepada Kepala Bidang Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Samosir, Jenny Purba. 

"Jadi tidak bisa diberikan bansos itu, baru bisa disalurkan setelah penerima masuk dalam BDT," imbuhnya.

Namun ia menjelaskan, bansos itu akan dicairkan di 2019 dan sudah disusun di APBD Provsu pada Dinsos Provsu yang dialokasikan untuk Kabupaten Samosir.

"Tapi harus sudah masuk dulu dalam BDT, baru bisa kita akomodir. Kalau tidak, di 2019 juga tidak akan direalisasikan," kata Ardo lagi.

Lebih jauh kata Ardo, para penerima masuk dalam BDT merupakan tanggungjawab Dinsos Samosir. "Bagaimana bbendaharamau transfer uang itu kalau penerima tidak masuk BDT?," sebut Ardo.

Sebelumnya, 2 orang penyandang disabilitas produktif yang telah didaftar sebagai penerima, Sandro Sitanggang (35), warga Desa Huta Tinggi, Kecamatan Pangururan dan Sonder Nadeak (45), warga Lontung, Desa Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, kepada wartawan, mengaku kecewa.

Sonder yang memiliki usaha jahit pakaian di kampungnya menjelaskan, bantuan itu sebelumnya dijanjikan cair pada bulan Desember 2018 lalu. "Tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya," bebernya.

Sandro Sitanggang juga menyampaikan hal sama, bantuan dimaksud, sebelumnya dijanjikan akan diberikan pada Desember 2018 lalu, namun sampai kini belum ada kejelasan.

"Kami jelas kecewa, dengan kondisi fisik seperti ini, memaksakan diri mengikuti sosialisasi yang digelar pada November 2018 lalu agar dapat menerima bantuan untuk pengembangan usaha," sebut Sandro kecewa.

Sementara Kabid Perlindungan Sosial Dinsos Kabupaten Samosir, Jenny Purba, ketika dikonfirmasi menampik pernyataan Dinsos Provinsi Sumut.

Dia mengatakan tidak perlu saling menyalahkan, karena semua pihak harus saling memahami kekurangan. "Jangan saling menyalahkan, Dinsos Sumut juga idealnya tidak hanya membenarkan diri," tegasnya.

Jenny justru mengharapkan agar fokus saja pada program tahun ini. "Tidak elok kalau saling menuding dan melempar kesalahan," imbuhnya.

Reporter; Josner
Editor; Dian P


Loading...

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.