Ternyata ini 'Mahkota' dan 'Istana' Dalam Kerajaan Batak

Ilustrasi | grafis/Freddy
SAMOSIRNews - Pangururan

Dalam sebuah Kerajaan ada istilah yang pernah kita dengar, seperti mahkota dan istana. Jika mendengar kedua istilah itu maka yang terbayang adalah bentuknya yang berupa benda.

Dalam hal ini, kedua ungkapan tersebut bukan suatu benda yang sebagaimana lazimnya 'mahkota' ataupun 'istana'.

Dihimpun dari  berbagai daerah tanah batak berdasarkan keterangan para orang tua mengenai kerajaan batak, berikut ulasan perihal Mahkota dan Istana tadi.

Diantara sekian banyaknya kerajaan-kerajaan yang ada didunia, termasuk kerajaan yang pernah ada di Indonesia, salah satunya adalah Kerajaan Batak.

Tidak seperti kerajaan lain, "Mahkota Raja Batak" tidak pernah hilang dan Istana kerajaan Batak tidak akan pernah runtuh,  karena semua orang batak memiliki istana dan memiliki mahkota. Itulah sebabnya semua Orang Batak disebut Raja atau Anak ni Raja.

Menurut penulis, Mahkota Batak dikatakan tak pernah hilang  karena mahkota itu tidak terbuat dari emas, berlian atau barang-barang berharga, melainkan mahkota Batak adalah Marganya sendiri.

Secara turun temurun, marga orang Batak tidak akan pernah hilang atau berpindah tangan, itulah sebabnya mengapa semua Orang Batak punya mahkota, karena Marga adalah mahkota bagi orang Batak.

Demikian juga dengan Istana, dikatakan abadi, karena istana orang Batak tidak terbuat dari batu, besi, kayu atau dari bahan-bahan bangunan lainya, namun istana tersebut adalah Dalihan Natolu.

Oleh sebab itu orang batak berada dalam ruang lingkup Dalihan Natolu tanpa terkecuali.

Dalihan Natolu adalah aturan atau hukum bagi Suku Batak yakni Somba Marhula-Hula, Manat Mardongan Tubu dan Elek Marboru.

Hula-hula adalah saudara laki-laki dari nenek, ibu dan istri dan Dongan Tubu adalah saudara satu marga, sementara Boru adalah saudari perempuan bersama keturunannya.

Dalihan natolu juga berlaku sebagai sebutan yang dipergunakan diacara adat maupun dikehidupan sehari hari.

Untuk memanggil Hula-hula adalah Oppung, Tulang, Lae dan Paraman. Sebutan untuk Dongan Tubu adalah Oppung, Bapatua, Bapauda, Abang, Adek dan Appara. Kemudian untuk Boru adalah Amangboru, Namboru, Ito, Lae, Bere dan Ibebere.

Hal ini berlaku dari jaman dahulu hingga saat ini. Marga yang disebut Mahkota dan Dalihan Natolu yang disebut Istana, itu tidak akan pernah hilang ditelan zaman selama Suku Batak masih ada.

Penulis: Jefri Sitanggang
Editor: Freddy S
loading...

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.