Prahara Rokok dalam Rumah Tangga

Romastiur Nainggolan (kiri) bersama penulis Rizal R. Surya. 

SAMOSIRNews - Pangururan

Apakah itu rokok? Menurut sumber Wikipedia, rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara) dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah.

Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung yang lainnya.

Judul yang saya gunakan adalah ‘prahara’, kenapa harus prahara? Menurut pandangan dan informasi luas bahwa rokok hanyalah pembawa berita buruk, terutama dalam rumah tangga.

Perokok menjadikan rokok sebagai kebutuhan utama yang sebenarnya tidaklah penting, baik itu untuk kesehatan tubuh tentunya juga merusak keuangan keluarga.

Saat ini semakin banyak jenis rokok yang diproduksi, merek-merek baru, packing yang semakin modis, harga bersaing tentunya dilakukan produsen untuk menarik minat para pencandu.

Walaupun pemerintah sudah mewajibkan untuk mencantumkan peringatan bahaya rokok, misalnya dengan tulisan ‘rmerokok membunuhmu’ atau dengan gambar yang cukup seram, seharunya membuat para perokok menjadi ‘ngeri’.

Karena gambar yang dicantunkan dalam bungkus rokok adalah organ tubuh yang pastinya akan mengalami kerusakan bila mengkonsumsi rokok secara berkesinambungan dalam waktu lama.

Selain bahaya langsung terhadap perokok efek buruk yang ditimbulkan terhadap orang-orang disekelilingnya yang tidak merokok sangat membahayakan, baik yang ada di rumah atau di tempat umum, disebut sebagi perokok pasif.

Efek buruk rokok yang saya bahas dari segi kesehatan secara fisik tentunya sudah sangat bisa menyadarkan para perokok untuk berhenti.

Faktor yang lebih menguatkan untuk berhenti merokok adalah pengeluaran rutin yang harus dialokasikan untuk sesuatu yang bukan prioritas sebagai kebutuhan penting dalm hidup atau rumah tangga.

Yang lebih buruk lagi bahwa rokok bukanlah hanya menjadi konsumsi kalangan pekerja, dimana secara logikanya seharusnya perokok adalah yang sudah memiliki pendapatan secara tetap, akan tetapi rokok sudah masuk ke kalangan remaja atau anak sekolah.

Hal inilah yang sangat urgent untuk diperangi oleh pemerintah dan juga orang tua atau guru di sekolah. Bisa dipastikan apabila anak sekolah sudah menjadi pecandu rokok, efek buruknya akan lebih besar daripada hal positif semu yang menurut anak sekolah.

Dalam ketidaksadaran, diriannya secara pelan pelan namun pasti merusak masa depannya sendiri, apakah yang terjadi apabila anak sekolah sudah menjadi pecandu rokok? Masa depan bangsa menjadi taruhannya.

Saya tidak membahas suami yang bertengkar dengan istri apabila kebutuhan uang untuk membeli rokok tidak diberikan. Maupun anak pecandu rokok akan melawan ibunya bila permintaan terhadap sejumlah uang dengan dalih biaya kebutuhan sekolah tidak diberikan.

Atau anak yang bahkan mencuri untuk bisa membeli rokok, atau tidak membayarkan uang sekolah mengalihkannya untuk membeli rokok.

Kontradiksi konsumsi rokok yang terjadi dalam rumah tangga, sesuatu hal yang perlu menjadi perhatian serius.


Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) secara berkala, merupakan salah satu sumber informasi gambaran kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pada Maret 2018, dari 480 rumah tangga yang tersebat di 9 kecamatan Kabupaten Samosir, tercatat rata-rata pengeluaran konsumsi rokok dan tembakau perkapita sebulan 81.468 rupiah.

Sementara pengeluaran konsumsi makanan perkapita sebulan Rp. 536.260, konsumsi rokok dan tembakau sebesar 15,19 persen mempengaruhi pengeluaran makanan.

Data Susenas Maret 2017 di Kabupaten Samosir, tercatat rata-rata pengeluaran konsumsi rokok dan tembakau perkapita sebulan 85.154 rupiah.

Jika rata-rata pengeluaran konsumsi makanan perkapita sebulan 517.579 rupiah, maka konsumsi rokok dan tembakau 16,45 persen dari seluruh pengeluaran.

Angka tersebut sangat fantastis, lebih dari 10 persen dana yang dikeluarkan per kapita terbuang dengan percuma.


Bila kita cermati tahun 2018, pengeluaran terhadap rokok dan tembakau berada pada urutan ke empat dari tiga belas pengeluaran komoditi makanan.

Komoditi daging, sayuran, buah-buahan, telur dan susu yang sejatinya sebagai kebutuhan pokok rumah tangga justru berada pada urutan dibawah komoditi rokok.

Pengeluaran yang cukup tinggi ini tentu dapat menurunkan kemampuan keuangan rumah tangga dan sebagai penyumbang besar terhadap kemiskinan

Fakta ini sungguh miris, pemerintah sudah seharunya bertindak tegas mengambil kebijakan terhadap kelangsungan masa depan Bangsa.

Saya bisa memastikan, tentunya angka ini bisa lebih, ada bermacam faktor yang mempengaruhi survey, satunya kurangnya keterbukaan informasi dari rumah tangga.

Sampel sebagai faktor utama misalnya pada saat pendataan petugas mewawancarai konsumsi anak bersamaan dengan orang tua, factor rasa takut terhadap orang tua bisa mempengaruhi kejujuran anak terutama anak laki laki terhadap konsumsi rokok.


Perlu diketahui, data Susenas sangat dibutuhkan untuk kelancaran program pemerintah. Baik untuk perencanaan, evaluasi, maupun pengembangan program. Bidang pendidikan, kesehatan, perumahan, ataupun masalah kemiskinan suatu daerah terpotret melalui survei ini.

Sehingga, sekecil apapun informasi yang ada harus dicatat. Termasuk konsumsi miras yang terjadi dalam rumah tangga. Sejatinya, yang dicatat bukanlah perilaku mengkonsumsi rokoknya, melainkan seluruh nilai pengeluaran yang sangat berdampak terhadap ekonomi rumah tangga dalam periode tertentu.


Informasi lengkap dan akurat yang diperoleh, dengan adanya jaminan kerahasiaan data yang tertuang dalam UU No. 16 tahun 1997, seharusnya menjadi kunci suatu rumah tangga untuk terbuka memberikan informasi karena hasil yang diperoleh berpengaruh besar terhadap kebijakan pemerintah.

Selain arah pembangunan yang tepat sasaran, tujuan dan cita-cita pembangunan nasional yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 bisa tercapai.

Oleh; Romastiur Nainggolan, S.Si

loading...

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.