Kedudukan AMA Dan INA Bagi Orang Batak

Ilustrasi | net
SAMOSIRNews - Pangururan

Orang Batak dikenal sebagai suku yang berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Suku ini memiliki banyak adat dan budaya di dalamnya. Suku Batak merupakan suku yang mengikuti garis keturunan laki-laki atau yang disebut dengan Patrilineal.

Hal itu terbukti karena marga sang ayah menjadi marga dari semua keturunannya yang sebelumnya juga diwariskan dari moyangnya laki-laki secara turun temurun.

Ayah atau Bapak dalam sebutan bahasa Batak adalah Ama (laki-laki) dan mama atau ibu dalam sebutan Bahasa Batak adalah Ina (perempuan).

Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber teramasuk dari orang-orang Batak, Ama dan Ina juga mempunyai pengertian yang bisa diterima akal.

Ama adalah "aha mambahen adong" yang diartikan sebagai pribadi yang bertugas atau bekerja mencari nafkah, membangun rumah atau yang disebut dengan "mamukka".

Saat seorang Ama meninggal dunia, maka akan dibuat acara adat pandungoi yang disebut dengan "Manjalo pinukka" (meminta warisan dari hasil yang dikerjakan semasa hidup) yakni rumah dan tanah.

Kemudian Ina adalah "inganan ni na adong" yang diartikan sebagai pribadi yang bertugas untuk mengumpulkan hasil dari pancaharian suaminya disamping mengurus rumah tangga sebagaimana seorang wanita.

Saat seorang Ina meninggal dunia, maka akan dibuat acara adat pandungoi yang disebut dengan "bukka hombung" (membuka lumbung atas apa yang sudah dikumpulkan semasa hidupnya) yakni, emas atau barangkali termasuk hewan peliharaan.

Hingga di era modern sekarang ini, acara adat pandungoi tersebut masih dilaksanakan pada saat orang batak tutup usia, utamanya bagi orang yang meninggal dunia di usia tua yang memiliki keturunan telah menikah semua atau disebut dengan Saur Matua.

Penulis: Jefri Sitanggang
Editor: Freddy S
loading...

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Diberdayakan oleh Blogger.